skip to main |
skip to sidebar
Pertama, pembelajaran di kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA terutama
semester 2 hanyalah latihan-latihan soal dengan tujuan jangka pendek:
lulus UN, lulus 100%, nilai UN bagus, dapat SMP/SMA favorit. Apakah
anak-anak kita akan dibekali untuk hidup di masyarakat hanya dengan
sekedar kemampuan menghafalkan materi ujian dan mengerjakan soal-soal.
Orang tua, kepala sekolah, kepala dinas, bupati, dan gubernur bangga
jika siswa mendapat nilai UN tinggi dan lulus 100%, padahal betapa guru
dan anak-anak sampai stress untuk menyiapkan UN.
Kedua, banyaknya kecurangan
yang dilakukan baik secara perorangan, sekelompok siswa, maupun yang
tersistem dari pihak sekolah, bahkan mungkin dinas dengan alasan agar
lulus 100%, agar sekolahnya terlihat baik, agar kepala sekolah dan
kepala dinas tidak malu.
Ketiga, kacaunya pelaksanaan UN.
Keempat, adanya dana besar untuk proyek UN
menjadikan UN layak terus dilaksanakan karena akan menyejahterakan:
menteri, kepala dinas, panitia UN, pengawas indipenden dari universitas,
pembuat soal, dan rekanan percetakan.
Saat ini adalah momen yang tepat untuk menghapus UN
yang hanya bertujuan untuk menyejahterakan beberapa oknum dan
menyenangkan pejabat dengan mengorbankan siswa dan guru dengan alih
melihat mutu pendidikan di Indonesia.
0 comments:
Posting Komentar